Ternyata, kehadirannya di taman itu bukan tanpa alasan. Karena tiap pagi ia selalu menikmati wajah indah seorang wanita yang lesu menunggu. Di kursi taman yang terbuat dari kayu itu, ia selalu menunggu kekasihnya yang kemudian datang untuk memacarinya. Jikalau tak datang, ia hanya bersedih kecil dengan air mata yang berlinang perlahan. Menyekanya dan hilang di telan senja.
Pelukis itu memang sudah melukisnya beberapa kali. Hampir dua minggu ia mengamatinya. Di waktu yang sesingkat itu, ada secercah hatinya untuk wanita itu. Namun, wanita itu sudah punya kekasih. Terpaksa, ia sejenak menjadi pemuja rahasia saja. Ya, karena sekarang masih not for sale, maka ia menunggunya sampai wanita itu jomblo lagi.
Sementara itu, saingan berat Pelukis menunjukan batang hidungnya. Ia, komikus handal. Pencipta komik yang selalu saja laris di pasaran. Berbeda dengan pelukis yang membondong kertas besar, si Komikus hanya butuh sebuah buku gambar tipis lengkap dengan pensilnya. Komikus itu juga masih muda, dan berniat juga untuk mendekati wanita itu. Malah, ia sudah pernah mendekati wanita itu dan berkenalan dengannya.
Suatu ketika, di cuaca yang mendung. Pelukis dan Komikus itu menyelinap di balik semak. Dilihat mereka. Wanita itu, sedang mencaci pacarnya. Cacian itu begitu pedas. Hingga akhirnya, tamparan maut mengakhiri pertemuan mereka. Pacarnya menghilang. Dan wanita itu menangis dengan kedua telapak tangannya menutup raut wajahnya yang bersimbah air mata. Sampai hujan turun, ia masih melanjutkan kelakuannya.
Sejak saat itu, tak ada lagi wanita yang menunggu kursi kayu itu di pagi hari. Tak ada objek yang bisa dilukis oleh Pelukis. Tak ada juga karakter yang coba komikus buat. Di taman itu, serasa hampa. Pelukis dan Komikus itu tak lagi bersemangat, menunggu berlama - lama di sana.
Si komikus menduduki kursi itu, disusul Pelukis yang kemudian nongkrong di dekatnya.
“Hei, apa yang kau lakukan disini?” kata Pelukis itu sambil melihat langit.
“Tak ada, hanya saja, mulanya, aku menunggu wanita yang sering duduk disini di pagi hari,” jawab Komikus.
“Apa? Jadi, wanita itu? Kau juga mengamatinya?” sahut Pelukis. Komikus mengiyakannya.
Lalu percekcokan terjadi. Mereka sama - sama pemuja rahasia wanita itu. Mereka bertarung mulut tentang kesetiaan mereka pada wanita itu. Hingga tentang keahlian mereka masing - masing. Mereka tak pernah akur.
Namun, semua itu membuat mereka akrab. Kemudian mereka sepakat untuk mengadu keahlian. Mereka akan bertanding tentang karya. Bila salah satu karya mereka bisa membuat wanita itu bahagia dan kembali di taman ini, maka yang kalah harus menyerah dan tak akan mengganggu wanita itu lagi. Akhirnya, mereka mengadu lotre. Menentukan siapa yang berhak pertama kali mempersembahkan karyanya. Hompimpa dilakukan. Pelukislah yang pertama mendapat kesempatan memberi persembahan yang terindah.
Malam itu, si Pelukis bersiap. Pelukis sudah siap dengan membawa lukisan terbaiknya bergambar wanita itu, jas hitam, dan sekuntum bunga.
“Ting Tong!” Ia menunggu agak lama. Dari dalam rumah itu, wanita membuka pintu. Dengan wajah yang tampak sedih dan bajunya yang amburadul.
“Bruk!” Secepat kilat wanita itu menutup pintu dan “Ouch”, muka pelukis itu menghantam pintu karena mencoba masuk tanpa permisi.
“Cantik, ada hadiah untukmu!” Pelukis memohon agar wanita membuka pintu lagi. Setelah beberapa lama, pintu itu terbuka. Kali ini, wanita tampak tersenyum malu.
“Ini, sebuah lukisan untukmu!” sambil menyodorkan lukisannya.
“Benarkah itu? Lukisan yang indah sekali! Terimakasih,” kata wanita itu lalu menutup pintu lagi dengan segera.
Pelukis bahagia karena lukisannya diterima. Ia yakin akan memenangkan perlombaan ini. Sambil memasang rasa bangga, ia melenggang meninggalkan rumah wanita itu. Hingga ia lupa, sekuntum bunga itu tak sempat ia berikan pada wanita itu. Bodohnya ia.
Malam kedua, giliran si Komikus beraksi. Siap, ia menarik nafas. Tak seperti Pelukis yang membawa satu lukisan, Komikus menenteng 10 komiknya sekaligus. Komik - komik itu mengandalkan tema merayu pula. Ia menyisir rambut jambulnya. Merasa siap,”ting tong!”. Agak lama kemudian, “ting tong!”. Akhirnya pintu itu terbuka.
“Hai Cantik, ku bawakan sepuluh komikku. Agar kau bisa tertawa membacanya!” sambil menyodorkan komiknya. Dengan wajah juga lesu, wanita itu menerimanya.
“Terimakasih, aku suka sekali dengan komik. Aku pasti akan tertawa!” respon wanita itu. Cepat sekali wanita itu menutup pintu. Dan lagi - lagi, “bruk!” wajah komikus menghantam pintu ketika mencoba masuk tanpa permisi. Penerimaan itu, cukup membuatnya bangga.
Pertemuan diadakan di taman lagi. Pelukis dan komikus berdebat di sana. Masing - masing membanggakan karyanya yang diterima. Pelukis yakin, lukisannya sangat indah dan akan membuat wanita itu senang. Komikus yakin, komiknya akan mengocok perut hingga tawa hinggap di wajah wanita itu.
“Komikku pasti berhasil!”
“Tidak, lukisanku nomor satu!”
“Lukisanmu tak cukup bisa membuatnya tertawa!” Lalu, kebodohan mereka baru pecah.
“Lalu, karya kita sama - sama diterima. Bagaimana kita bisa menentukan pemenangnya?” kata Pelukis.
“Mari, kita pastikan nanti malam,” ujar komikus. Mereka berdua menyetujui hal itu.
Malam ketiga. Pelukis dan Komikus siap menemui wanita itu.
“Ting tong!”. Pintu itu terbuka. Berbeda dengan malam yang sebelumnya, wanita tampak segar dan bersemangat. Wanita itu tersenyum saja.
“Kami, penggemar rahasiamu! Lalu, mana yang lebih kau suka, lukisan atau komik?” kata Komikus mengawali pembicaraan. Wanita itu hanya mengangguk. Dan kedua lelaki bodoh itu diam saja.
Datanglah seorang lelaki yang meramaikan teras itu. Ia adalah mantan pacarnya. Lelaki itu mendekap si wanita dan mulai bicara.
“Maaf, kami hanya berakting. Aku aktor terbaik dan wanita ini, istriku adalah aktris terbaik. Kami hanya menginginkan karya kalian dengan gratis, lalu kami susun skenario itu. Terimakasih atas karyanya.”
Kedua suami istri itu memasuki rumah dan lagi - lagi, “Ouch”, wajah dua lelaki bodoh itu menghantam pintu karena mencoba masuk tanpa permisi.
Mereka teriak, “Berikan uang kami! Itu tidak gratis!”
- Back to Home »
- Cerpen »
- Pelukis dan Komikus
Posted by : Unknown
Selasa, 31 Agustus 2010
Di taman pusat kota ini tempat ia menuangkan imajinya lewat sebuah kanvas. Dengan tangan magicnya, ia bisa membuat objek yang ia jiplak tampak romantis dan naturalis. Tentu, ia bukan amatir. Meski masih remaja, gelar profesional telah ia sandang. Hasil coretannya, bisa saja dihargai 10 juta. Namun aneh, sebagai seorang pelukis terkenal, ia memilih taman pusat kota yang kecil dan sederhana ini. Lain dengan pelukis lainnya yang memilih tempat nongkrong yang jarang terlihat mata.
tragis.... -_-'
BalasHapusseandainya mereka lebih berfikir " jernih " atas apa yang mereka perbuat....