Posted by : Unknown Sabtu, 19 Oktober 2013



                “Kami sudah menunggu di UNS Solo, cepatlah datang kemari!”
                Aku yang sedang dalam perjalanan, melaju agak cepat ke tempat tujuan.
                “Apa ini? Mereka tiba – tiba sangat tepat waktu ketika ingin berbulan madu.” Gerutuku dalam hati sambil menahan rasa iri. Benar – benar sangat iri, mereka yang merupakan dua sahabatku yang baru saja menikah setelah menjalani hubungan sejak bangku SMA itu menyuruhku menjadi pengantar acara pribadi mereka. Menyisakanku meratapi kekosongan yang sampai sekarang di umur 26 belum juga memiliki seorang pendamping. Andai saja aku tak melewatkannya.
                Mobilku mulai mendekati lokasi. Tak lama berselang akhirnya ku menemukan sambutan penuh keceriaan terpancar dari wajah segar mereka. Tepat di pukul 7 pagi, Setelah memarkir mobil, aku bergabung bersama mereka yang mengenakan jaket couple merah berbahan  goretex. Dalam sesaat, aku melupakan rasa iriku yang kemudian berganti menjadi rasa rindu tak bertemu teman lama. Sebuah reuni kecil yang bahagia.
                “Sudah menunggu lama?” tanyaku
                “Nggak kok, Cuma 15 menitan. Eh, Nok, kamu membawa semuanya?“ Tanya Arya.
                “Tentu, tiga sleeping bag, tiga matras, dua kompor, dua misting dan dua tenda.” Jawabku.
                “Apa tidak terlalu berlebihan menyewa dua tenda?” kali ini tanya Ratri.
                “Tenang saja, anggap saja ini hadiah pernikahan kalian sebagai ganti aku yang tak bisa datang di resepsi. Sebenernya yang cuma disewa, tenda yang satunya punyaku.”
                “Terimakasih Nok. Tumben kamu baik banget.” Tawa pun terjadi.
                Perbincangan berubah membahas masa lalu. Mereka adalah Arya dan Ratri. Pasangan kakak – adik kelas yang sukses menjadi sepasang kekasih akibat acara masa orientasi di SMA yang sekarang telah sama – sama menjadi guru. Ku pikir menjalani hubungan selama itu adalah mustahil. Namun mereka yang bisa menjaga hubungan hingga sekarang adalah sebuah prestasi yang tidak bisa kulakukan. Dan perbincangan beralih membahas jalan karir dan kisah cintaku yang menyedihkan. Aku pun hanya bisa menerima pahit ditertawakan oleh mereka.
                “Oke cukup berbincangnya, bagaimana kalau kita langsung berangkat?” tawarku
                “Sebentar Nok, ada satu orang lagi yang belum datang.” Kata Ratri.
                “Siapa?” tanyaku penasaran.
                “Rahasia, sepuluh menit-an lagi ya? Oke?”
             Kami pun kembali berbincang. Tak lama kemudian benar apa yang dikatakan oleh Ratri. Seseorang datang menghampiri kami. Dengan membelakangi sinar matahari pagi yang menyilaukan, orang itu berjalan dengan wujud siluet yang perlahan mendekat. Angin tiba – tiba ikut mendukung suasana dengan hembusannya yang sepoi – sepoi menyejukan. Dan Ratri yang dari tadi memasang muka datar kini tersenyum puas. Apa yang ia rencanakan?
                Jadilah sesosok wanita dengan tinggi 165 cm hadir lengkap membawa peralatan lengkap di punggungnya yang sempit. Kakinya yang mungil mampu menahan beratnya beban itu. Dengan wajah sedikit berpeluh yang sudah tak asing lagi di kedua bola mataku. Dan jaket berwarna oranye itu yang membuatku tak akan ragu memastikan bahwa namanya adalah. . .
                “Hai mas-mas! Sinta datang . . “ kata pertamanya yang segar dan ceria.
                 Disambut pelukan seorang Ratri seperti sambutan antar wanita biasa. Dilanjutkan perbincangan kedua wanita yang lancar sekali seperti laju kendaraan di jalan tol. Meninggalkan dua pria yang berdiri diam karena habis topik pembicaraan. Sebentar, apa artinya ini? Aku membawa dua tenda masing – masing kapasitas 3 orang untuk pengantin baru dan untukku sendiri, dan sekarang ada seorang wanita ini?
                “Oke ayo berangkat mas Junok!” perintah Ratri. “Bagaimana? Kamu senangnya kan aku membawanya?” kata Ratri sambil berbisik.
                “Ya. . . bisa jadi“ jawaban bodohku.
                “Junok! Bagasinya sudah penuh,” ujar Arya yang hendak memasukkan ranselnya dan ransel Ratri ke dalam bagasi. Memang bagasi aku penuhi dengan  tenda dan peralatan yang tadi kusebutkan. Kami menata tempat duduk. Mobil pun penuh sesak dengan keberadaan empat ransel beserta empat manusianya dengan rincian tiga ransel dua orang di kursi belakang dan satu ransel dua orang di kursi depan. Dan jelas aku menyetir di samping seorang Sinta.
                Setelah mengencangkan sabuk pengaman, kami berangkat. Beberapa lagu dari Nidji menemani perjalanan kami menuju lokasi. Sambil bernyanyi – nyanyi kami menikmati pemandangan lereng yang menghijau di bulan Desember.
                “Sinta, kamu yakin bisa melakukannya? Apa kamu dipaksa ikut oleh mereka?” tanyaku.
               “Nggak kok, Sinta ikut tanpa paksa kok. Kenapa mas sangat serius memikirkannya?” Tanya Sinta balik.
                “Kenapa kamu nggak bilang kalau mau ikut?”
                “Aku bilang kok ke Ratri. Sudah, konsentrasi kalo nyetir!” Jawabnya ringan.
                Perjalanan kembali bising oleh suara mereka yang bernyanyi sejadi – jadinya. Matahari mulai meninggi di pukul 9 pagi, sementara karena berjalannnya waktu, suara mereka mulai sayup – sayup menghilang. Ransel – ransel yang memberatkan pangkuan mereka akhirnya berhasil membuat mereka melemah. Namun tidak ada waktu untuk tidur, sebentar lagi kami akan sampai di lokasi. Badan jalan mulai sempit pertanda sudah memasuki kawasan pedesaan. Suhu mulai dingin meskipun AC sedang tidak aktif. Dan beberapa menit kemudian akhirnya sampai juga. Laju mobil melambat dan berbelok masuk di halaman sebuah rumah. Akhirnya sampai juga. Kami pun satu persatu turun dari mobil.
               “Selamat datang di Basecamp pendakian gunung Merbabu jalur Selo.” Kataku disambut takjubnya mata mereka yang melihat punggung cantik gunung Merbabu. Cantik memang, karena dari namanya Merbabu, bahasa sanksekerta dari kata “Meru” artinya gunung dan “Babu” artinya wanita memang cantik.
                Kemudian kami menata ulang barang – barang yang akan dibawa sambil mengurus perizinan. Dengan kehadiran Sinta, acara bulan madu ini seakan teralihkan. Benar, semua gara – gara wanita itu. Setelah tiga tahun tidak bertemu dan berkomunikasi dengannya ternyata dia masih seperti dulu. Menyenangkan. Bahkan senyumnya yang membusur ketika pertama kali kami bertemu pun belum terlupakan.
                “Nok, tuh bantuin Sinta,” suruh Arya yang sedang menata ransel bersama Ratri.
                Akupun menghampiri Sinta yang terpaksa menambah barang bawaan dari logistik yang ku bawa dari bagasi.
                “Sinta? Ada yang bisa ku bantu?”
                “Nih, tolong ya, boleh mas?” kata Sinta sambil menyodorkan dua buah air mineral ukuran 2 L.
                “Oke,” lagi, beban 4 Liter menambah berat ranselku. Sementara Arya dan Ratri masih repot sendiri, aku mulai menyesuaikan udara di antara aku dan Sinta yang agak gersang.
                “Sinta, kamu yakin mau mendaki?”
                “Yakin kok, memangnya mas nggak selama tiga tahun aku kemana?”
                “Memangnya kemana?”
                “Rahasia,” ujarnya sambil tersenyum ringan. Aku jatuh lagi ke dalam permainan kata – katanya sambil cemas dan ragu memikirkan kondisi kesehatan wanita ini.
                “Setidaknya mas senang kan punya teman lain, daripada sendirian mengantar pengantin baru itu?” kata – katanya kembali memancingku. Aku pun mengangguk dengan canggung. Wanita ini benar – benar berhasil menekuk logikaku.
Setelah semua proses pengepakan selesai, kami pun siap berangkat. Di depan basecamp ini kami berempat berpose di depan kamera. Sambil menunggu fokus kamera yang dieksekusi oleh pendaki lain itu. Aku berdoa dalam hati, “semoga perjalanan ini membahagiakan mereka, dan tentunya membahagiakanku juga.”
“Satu, Dua, Tiga,  . . . Senyumm m m “
“Jepret”


                

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Telegram

Popular Post

- Copyright © The21ers -kebomarcuet- Powered by Blogger -