- Back to Home »
- Puisi »
- Antologi Puisi
Nostalgia
17.45 WIB, 13 Agustus 2009
Dan akhirnya, kutemukan juga nostalgia
Rima dan kosakata flanella
Amboi hingga mengeringkan telinga
Oh, kelopak perdana tiada tara
Hatiku kalut ingat riak - riak gelombang itu
Hantu - hantu menyerbu seperti kutu
Seketika, rontoklah jenggotku
Merayu bersama angan rumbai - rumbai pelangi dahulu
Sungguh pilu
Jangan tanya aku akan berbuat apa
Karena otakku telah dimakan srigala pembenci cinta
Namun, apa yang kudapat teman asmara?
Iya, dan kami takkan terusik bau waktu semua dunia
Tipu Dayamu
05,21 WIB, 14 Agustus 2009
Legam aku kau buat berduri
Tapi nikmat tiada khianat ku masih menyair
Indah kau tipu aku bagai boneka
Mengais - ais seperti pengemis cinta
Buktikan saja sejak dulu maka aku tak meronta
Tubuhku disampingmu dan dia tak pernah ada
Wanita hingga tiada tara
Bisakah kau nilai bulan yang ku terbangkan ke nirwana
Tanganku melepuh karena kumuh
Kau memang benar dan aku salah
Dia tak pernah datang tapi kau rindu bagai dewa
Aku melamun, kau tertawa
Melalang buana hatiku pada atap - atap kuburan ini
Pasung saja diriku dan ulangi
Maka terimakasih wahai bunga
Aku Ada Untukmu
20.02 WIB, 14 Agustus 2009
Rindu aku oleh hidung biru legammu
Telah beribu debar merasuk kalbu
Kamu masih ringkih, ayo kutatih
Habiskan lesumu baru berlari
Kaki - kaki semu itu milikku
Memang tak tahu tapi itu abadi
Rasakan baunya saja jangan membalas
Itu hukum, masih cukup buritan
Masih berkelana, sekian jauh
Sandarkan lehermu pada bangku bahuku
Tidurlah pulas pasti aku tunggu
Dan ketika datang cahayamu, akan kucari gaung bertalu
Kau itu adikku, tak kan ku biar kau meranggas lagi
Terlambat
16.15 WIB, 15 Agustus 2009
Seandainya, ku lebih dulu menyapanya
Aku pasti juara
Akan kuterbangkan ia pada kicau - kicau telinganya
Pada sejuk rindang pusara matanya
Harum semampai aroma bagi hidungnya
Dan terpenting, adalah hangat mesra sinar temaram untuk katup - katup hatinya
Sungguh aku bahagia, jikalau ia merasa cintaku ini mungil dan besar di sarangnya
Tapi, tapi dan tapi,
Kenapa ketika itu, tuhan tak merestui pertemuan kami
Ironi,
Yang tersisa hanyalah seorang pujangga
Yang syair - syairnya gulung tikar pada perjudian cintanya
Musnah segala hati pikirannya
Tentang wanita tiada tara milik, lelaki itu
Dan aku, terjerat
Pada takdir bahwa diriku ini, terlambat
Debar Hati
15.07 WIB, 16 Agustus 2009
Kini asaku terbakar lagi
Dari malam lelap dan sunyi
Waktunya aku menyusun mozaik hati
Dan ku bungkam dunia dengan abadi
Jadi telah kutemui pelopor jiwaku
Yang terhenyak sucikan mata batinku
Aku bersyukur hingga jatuh tersungkur
Karena aku telah menemukanmu
Dinda kemarikan tanganmu itu
Kan kutulis cerita tentang sayu - sayu
Lukislah dunia hingga tak terbatas
Karena aku kan hilang pada rerumputan
Dan mengajak jangkrik - jangkrik gembira
Penuh sukacita tawa bersama
Lalu pesta kita akan terukir dalam sanubari lestari
Ketika Kita Bersama
17.27 WIB, 17 Agustus 2009
Amankan awan itu untuk meredupi angkasamu
Karena aku pilu melihatmu terterik mentari semu
Izinkan ku memelukmu di tengah dinginnya musim lalu
Dan kicau kan terbang tinggi semerbak abadi di depanmu
Lalu kita kan bercinta senang
Untuk ke kolam mencoba berenang
Mulai menyelam dalam tertantang
Ku kan lindungimu untuk menang
Ilusi optik tetap bersama
Walau tak tau tuk berapa lama
Kita kan merayakan seluruh dunia
Tunjukan cinta yang terbahagia
Tunjukan mesra yang terjaga
Lalu ku ajak kau berlayar
Jalan - jalan ke pulau kembar
Menikmati jantung - jantung berdebar
Dan kita tak ingin rasa itu hambar
Ku rayakan padamu gebyar - gebyar